Get ISLAMIC-Graphics
Kamis, 11 Juni 2009
DO'A
href="http://www.Raza4u.com/orkutgraphic.html">
border="0"
src="http://www.picamatic.com/show/2008/06/03/05/380096_530x250.gif">
style="padding: 2px; background:#fff0f0; color:#000; font-family:arial;
font-size:11px; text-decoration:none; border:2px solid #d72727;"
href="http://www.Raza4u.com/orkutgraphic.html" target="_blank">Get ISLAMIC-Graphics
src="http://www.picamatic.com/show/2008/06/03/05/380096_530x250.gif">
style="padding: 2px; background:#fff0f0; color:#000; font-family:arial;
font-size:11px; text-decoration:none; border:2px solid #d72727;"
href="http://www.Raza4u.com/orkutgraphic.html" target="_blank">Get ISLAMIC-Graphics
Rabu, 10 Juni 2009
Nidaus Sa'adah
Tak ada luka bagi kita
bahkan duka citapun telah musnah?
telah sirna?
tinggal sajak
dan sunyi
keberanian itu
kita tegakkan
dalam cahaya diri
dan membakar
seperti semesta
dalam genggaman
cakrawala
menghembuskan takbir
dan doa
di mana-mana
By : Mathori A. Elwa
bahkan duka citapun telah musnah?
telah sirna?
tinggal sajak
dan sunyi
keberanian itu
kita tegakkan
dalam cahaya diri
dan membakar
seperti semesta
dalam genggaman
cakrawala
menghembuskan takbir
dan doa
di mana-mana
By : Mathori A. Elwa
Sabtu, 06 Juni 2009
Potongan puisi musim semi Jalaluddin Rumi dalam bahasa aslinya.
Biya, biya dildar-i man dildar-i man
Dara dar kar-i man dar kar-i man
Tu-i tu-i gulzar-I man gulzar-I man
Bi-gu bi-gu asrar-i man asrar-i man (D 1785)
Mari, mari kasih, mari kasih
Masuk, masuklah ke dalam karyaku, ke dalam karyaku
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku
Katakanlah, katakanlah rahasiaku, rahasiaku
(Puisi Rumi untuk Syamsi Tabriz (barangkali...))
Dara dar kar-i man dar kar-i man
Tu-i tu-i gulzar-I man gulzar-I man
Bi-gu bi-gu asrar-i man asrar-i man (D 1785)
Mari, mari kasih, mari kasih
Masuk, masuklah ke dalam karyaku, ke dalam karyaku
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku
Katakanlah, katakanlah rahasiaku, rahasiaku
(Puisi Rumi untuk Syamsi Tabriz (barangkali...))
puisi murid-guru
Tuhan menciptakan dunia
Manusia membuatnya lebih Indah
Apakah manusia ditakdirkan
Untuk menjadi saingan Tuhan ?
Kau ciptakan malam, aku ciptakan lentera
Kau ciptakan lempung, aku ciptakan cawan
Kau ciptakan padang pasir, gunung dan rimba
Aku ciptakan kebun, taman dan hutan buatan
Akulah yang membuat batu menjadi cermin
Akulah yang membuat racun menjadi obat
Kebesaran manusia terletak pada daya ciptanya
Bulan dan bintang hanya mengulang
Kewajiban yang ditetapkan atasnya
(puisi M.Iqbal, Pakistan)
Lihat Puisi Jalaluddin Rumi di bawah ini ...
Contoh potongan puisi Jalaluddin Rumi :
Jika Dia menjadikan aku cawan,
jadilah aku cawan
Jika Dia menjadikan aku pisau
jadilah aku pisau
Jika Dia menjadikan aku sumber air
akan kualirkan air
Jika Dia menjadikan aku api
aku akan memberikan panas
Jika Dia menjadikan aku hujan
akan kutumbuhkan musim panen
Jika Dia menjadikan aku jarum
kutembus tubuh
Jika Dia menjadikan aku ular
akan kukeluarkan bisa
Jika Dia menjadikan aku sahabatnya
Hanya Dia yang akan kuabdi (M V 1686)
(Disunting dari “ Akulah Angin Engkaulah Badai karya Annemarie Schimmel)
kedekatan keduanya....
Manusia membuatnya lebih Indah
Apakah manusia ditakdirkan
Untuk menjadi saingan Tuhan ?
Kau ciptakan malam, aku ciptakan lentera
Kau ciptakan lempung, aku ciptakan cawan
Kau ciptakan padang pasir, gunung dan rimba
Aku ciptakan kebun, taman dan hutan buatan
Akulah yang membuat batu menjadi cermin
Akulah yang membuat racun menjadi obat
Kebesaran manusia terletak pada daya ciptanya
Bulan dan bintang hanya mengulang
Kewajiban yang ditetapkan atasnya
(puisi M.Iqbal, Pakistan)
Lihat Puisi Jalaluddin Rumi di bawah ini ...
Contoh potongan puisi Jalaluddin Rumi :
Jika Dia menjadikan aku cawan,
jadilah aku cawan
Jika Dia menjadikan aku pisau
jadilah aku pisau
Jika Dia menjadikan aku sumber air
akan kualirkan air
Jika Dia menjadikan aku api
aku akan memberikan panas
Jika Dia menjadikan aku hujan
akan kutumbuhkan musim panen
Jika Dia menjadikan aku jarum
kutembus tubuh
Jika Dia menjadikan aku ular
akan kukeluarkan bisa
Jika Dia menjadikan aku sahabatnya
Hanya Dia yang akan kuabdi (M V 1686)
(Disunting dari “ Akulah Angin Engkaulah Badai karya Annemarie Schimmel)
kedekatan keduanya....
Rabu, 15 April 2009
UN oohh...UN..
Menjelang UN tahun ini, semua orang yang terlibat dalam dinamika pendidikan di tingkat atas disibukkan dengan persiapan pelaksanaan mulai tanggal 20 April nanti. Kerrja keras selama 3 tahun akan ditentukan nasibnya dalam waktu tak lebih dari 5 hari. Rekaman proses bertahun-tahun seolah kalah pamor dengan ujian nasional. Segala energi, pengharapan dan doa seolah terserap untuk keberhasilan siswa-siswi dalam UN nanti.
Ya, demikianlah, kenaikan standar kelulusan sebesar 0,25 persen membuat banyak orang jadi paranoid. Kekhawatiran, ketakutan, telah menghabiskan sebagian besar energi. Maka keputusan tepat yang diambil pada saat ini adalah bagaimana memulihkan energi sehingga pada saatnya nanti siswa siap secara mental dan tetap focus pada permasalahan yang dihadapi.
Ketika kelelahan fisik sudah tak teratasi, maka langkah yang paling tepat adalah cooling down. Menjenakkan pikir dengan memusatkan diri pada kehampaan.
Untuk tujuan itu barangkali, saat ini sedang trend menggelar acara istighosah di sekolah umum maupun madrasah untuk menghadapi ujian nasionala nanti. Pada akhirnya kita harus kembali kepada dzat Yang Maha Hampa untuk mengakui kekosongan diri kita.
Segala kesombongan selama ini harus menyerah pada Dzat yang selama ini memenuhi kita. Kita bukan siapa-siapa. Bukan si Pintar, bukan si Kaya, si Cantik, si Ganteng, si Sukses, si Sial, si Kacian de lo, atau siApapun juga.
Kita adalah pengejawantahan kekuasaanNya. Sebanyak itu yang terdapat atau tidak terdapat, itu semua adalah variasi pencitraanNya.
Maka, mensyukuri semua adalah bahasa yang paling rendah hati.
Lain syakartum, laadzidannakum...
Maka, kepada semua siswa yang saat ini sedang berjuang dalam pertempuran, semoga kalian tetap rendah hati dan pandai mensyukuri, semoga Kasih SayangNya meRahmati kalian.
Doa kami selalu menyertai. Alfatihah.....
Ya, demikianlah, kenaikan standar kelulusan sebesar 0,25 persen membuat banyak orang jadi paranoid. Kekhawatiran, ketakutan, telah menghabiskan sebagian besar energi. Maka keputusan tepat yang diambil pada saat ini adalah bagaimana memulihkan energi sehingga pada saatnya nanti siswa siap secara mental dan tetap focus pada permasalahan yang dihadapi.
Ketika kelelahan fisik sudah tak teratasi, maka langkah yang paling tepat adalah cooling down. Menjenakkan pikir dengan memusatkan diri pada kehampaan.
Untuk tujuan itu barangkali, saat ini sedang trend menggelar acara istighosah di sekolah umum maupun madrasah untuk menghadapi ujian nasionala nanti. Pada akhirnya kita harus kembali kepada dzat Yang Maha Hampa untuk mengakui kekosongan diri kita.
Segala kesombongan selama ini harus menyerah pada Dzat yang selama ini memenuhi kita. Kita bukan siapa-siapa. Bukan si Pintar, bukan si Kaya, si Cantik, si Ganteng, si Sukses, si Sial, si Kacian de lo, atau siApapun juga.
Kita adalah pengejawantahan kekuasaanNya. Sebanyak itu yang terdapat atau tidak terdapat, itu semua adalah variasi pencitraanNya.
Maka, mensyukuri semua adalah bahasa yang paling rendah hati.
Lain syakartum, laadzidannakum...
Maka, kepada semua siswa yang saat ini sedang berjuang dalam pertempuran, semoga kalian tetap rendah hati dan pandai mensyukuri, semoga Kasih SayangNya meRahmati kalian.
Doa kami selalu menyertai. Alfatihah.....
Langganan:
Postingan (Atom)