Rabu, 30 Maret 2011

Salam Alaik Ya Nabiy..

Seperti kerinduan akan perjumpaan ini
Seperti itulah keinginanku untuk mengunjungimu, Nabi
Baru menyebutmu saja air mata sudah menghampiri
Bagaimana hendak kulabuhkan sayatan hati 

Wahai kekasih Allah
Gerangan apa sakit ini,
sehingga tak kuasa ku mengobati
serasa perkebunan kurma di Thaif jadi cermin hati

Ooh dambaan syafaat..
segala bayangan sakarat
bagai dosa-dosaku yang melekat
aku makhluk terlaknat

Maka rinduku ini Rasul
menjadi harapanku yang makbul
menjumpaimu manusia unggul
biarpun cemeti bagai beban terpanggul

Biarkan airmata menjadi bagian darimu : Shallu Alaih...


Jumat, 08 Oktober 2010

Rindu

Allah,
saat-saat ini, saat saat yang
sungguh kutunggu
Kau datang dan genggam hatiku
hingga leleh airmataku oleh rindu
dan aku tak peduli semua
bahkan diriku
kusebut Kau
kau sebut aku
Kita berKasih dalam biusMu
aku mabok
aku tenggelam
aku terkapar
aku
tiada..

Sabtu, 02 Oktober 2010

JALAN MENUJU KONYA

Pergilah ke pangkuan Tuhan,
Dan Tuhan akan memelukmu dan menciummu,
Dan menunjukkan
Bahwa Ia tidak akan membiarkanmu lari dari-Nya.
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya, 
Siang dan malam (Ma’arif, h. 28)

( bilakah kakiku menapaknya? Konya... ah....Konya apa yang sebenarnya hadir dalam ingatanku? Mengapa kota ini? jeram yang menyeret dejavuku? )

Minggu, 05 September 2010

kepergian

pagi ini basah
gerimis tak sudah-sudah
seperti menjalani titah mendung kemarin siang
tadi malam daun diam
malam 27 ramadhan
angin tak bergerak
semua seperti sedang menunggu sang pejalan
waktu dan tanda-tanda
bersekutu untuk hari ini saja
seperti air mata yang membanjiri
hati dan ingatanku
inikah akhir seorang martir?
berkubang perih
dalam takdir
membaca peta
mengumpulkan sejarah yang terpecah
dan menyerah
dalam dekap cinta Sang Maha Rasa
Oh, Engkau yang Maha Mengenggam Makna
hamba tunduk
hamba takluk
dalam tanya dan asa
Engkau telah menampak perkasa
tapi bolehkah hamba meminta ?
wujudkan kali ini saja
segala cita-citanya
untuk
kebersamaan
persaudaraan
persatuan
kasih dan cintatanpaprasangka
bagi tanah tempatnya berpijak
sebagaimana setiap malam
dia memuja
karena kami tak bisa
membuatkan monumen
untuk semua doa-doanya
kasih ini tak terlambat
untukmu mas
doa selamatku
engkau telah bergabung
dengan mereka
mendahului kita
biarlah kami yang melanjutkan
segala doamu,
masihlah
koma
Alfatihah

Minggu, 18 Juli 2010

Resep gudeg yogya praktis

Jum'at. Suatu saat kangen banget lidahku sama gudeg batas kota. Tak sekeren gudeg bu Ahmad, Selokan atau gudeg Citro, gudeg Mijilan, dan gudeg-gudeg standar souvenir yang lain. Gudeg batas kota hanya warung kecil yang nempel di hotel Accacia, sekarang hotel Saphir di batas kota Demangan, dekat jalan Solo, Yogya.
Gudeg ini menawarkan sensasi khas saku mahasiswa yang pas-pasan. Murah, tapi kena di lidah. Apalagi waktu itu harus berjuang dengan jalan kaki agak jauh sebelum akhirnya harus antri dan perut sudah kelewat lama menunggu.Mungkin ini yang membawa kenangan tentang kenikmatannya. Makan ketika perut sudah benar-benar lapar.
Alkisah, karena terlalu jauh perjuangan untuk mendapatkannya, aku download saja resep di internet. Nekad bikin sendiri dengan bakat masak yang pas-pasan. Banyak resep yang sama, mungkin copy paste. But, it's okey. Beberapa resep aku mix untuk mendapatkan resep yang praktis. The real gudeg membutuhkan waktu 7-8 jam memasak di atas tungku kayu. Jelas aku tak kan sabar menunggu. Harus ada cara lain. Browsing lagi. So ketemu cara praktisnya. Pakai panci presto..! Yup Ini dia..

Siapkan bahan-bahannya :
1 buah nangka muda ukuran sedang, potong-potong sesuai selera.
6 buah telur bebek rebus
2 buah tahu potong-potong
500 ml santan kental
1/2 ekor ayam
5-10 lembar daun salam.
3 buah serai geprak
asam jawa secukupnya
daun jeruk purut 5 lembar
Laos yang diiris-iris kurang lebih 8 irisan tipis
Air kelapa

Haluskan:
12 bawang merah
7 bawang putih
1/2 sdt jintan
10 butir kemiri
1 sdm ketumbar
1 sdt terasi bakar
150 gr gula merah iris
2-3 sdt garam

Cara Masak :

Tata di dalam panci presto yang dialasi daun jati 3 lembar : Daun salam, laos iris, ayam, nangka dan telur. Campur santan dan bumbunya. Tuangkan ke dalam susunan bahan. Tutup dengan daun jati lagi. Masak dengan panci presto selama 30 menit. Diamkan sampai dingin dan agak meresap.Setelah itu, dengan hati-hati tata bahan di wajan besar, lalu masak untuk mendapatkan efek kering. Jangan terlalu diaduk, bila tak ingin hancur. Setelah agak kering atau sesuai selera, angkat masakan dari wajan. siap deh dihidangkan.
Selamat mencoba...

Jumat, 16 Juli 2010

Ayah

Aku mengingatnya sebagai figur tanpa kata
dia menjelma dalam rupa
ketika ingatanku menggegas dalam doa
tak ada amarah, tak ada puja
apalagi cela
dia hanya bicara dengan tubuhnya
seperti ketika
aku mendapat diaryku yang pertama
tak ada pituah
bagaimana menggores lembar-lembarnya
padahal aku baru belajar berkata-kata
dengan diam pula
aku menggali makna
sejak itu, kutahu dialah sahabatku utama

meski jejaknya bertebaran dimana-mana
dia tak pernah bercerita
tentang keringat emasnya.
tak ada kami diajari cara berbangga
apalagi memakai namanya
semua sudah selayaknya
dan sudah pada tempatnya
kehidupan yang bersahaja

kau mengerti :
demikianlah dia mengajari
bikin jejakmu sendiri !

maaf bapak
ketika kuhanya mampu menetek saja
tak bisa membuatmu bangga

aku tak bisa berperang
jika itu tentang
sejarah yang diperebutkan

aku hanya bisa mengenang
sebuah kerja tanpa keluhan
tanpa airmata
tanpa sejarah yang direncanakan
sebagaimana para pendahulu
memulai sebuah cangkulan

abah
aku bangga
dengan kebisuanmu

Sabtu, 12 Juni 2010

Dolanan yuukk...




Kalau anak-anak kecil sekarang ditanya tentang lagu dolanan, pasti mereka akan cuek menjawab tidak tahu. Atau kalau ada yang sedikit antusias, pasti bertanya, apa itu? Apakah semacam produk game terbaru? asyik mana sama Mafia Stars? Kalau Naruto, aku suka, kata mereka. Atau yang suka bola pasti tak asing dengan Kapten Tsubasa. Masih mending cerita filosofis Aang si Avatar. Semua nama di atas sebenarnya hanya saya dengar sambil lalu saja. Sesekali nimbrung dengan anak kalau pas suasana mendukung. Tapi lebih banyak saya yang terheran-heran melihat betapa mereka begitu terpaku pada layar monitor --TV maupun komputer-- untuk memainkan jemari dan mata mereka.

Beda banget dengan suasana waktu saya masih seusia mereka. Bagi generasi yang dibesarkan di era 70-an hingga 80-an, dolanan menjadi bagian dari waktu yang paling ditunggu selepas sekolah. Yang paling banyak berperan adalah fisik dan strategi. Berlari, melompat, menghitung, cermat, hati-hati, adalah bagian yang harus dipunyai untuk memenangkan permainan seperti obak beteng, pencolotan, skiping, benthik, bekel, dakon, suru, dll.
Meski pada dasarnya waktu luang saya sempit sekali karena saya sekolah pagi dan sore, saya masih sangat menikmati hari-hari libur yang hanya separoh. Jum'at siang hari dan Minggu pagi. Tapi memori saya tentang dolanan ini begitu banyak. Bahkan saya masih sempat cari ikan di selokan, cari tebu di sawah, cari buah salam di kebun orang, manjat pohon keres dan belimbing di rumah nenek ** wah yang ini top secret**. Belum lagi mainan standar seperti pasaran, main boneka, nebak nama dll. Wah, saya juga baru tahu banyak sekali dolanan saya dulu, setelah saya list begini. Itu belum semua.

Pada beberapa jenis dolanan, ada lagu yang harus dinyanyikan untuk memulai permainan. Bermain patung, dimana yang paling awal bergerak, dan tidak mematung, dia yang jadi dan yang lain berlari, lihatlah lagunya ..
" putih- putih melati, Alibaba
Merah-merah delima, Pinokio
Siapa yang baik hati, Cinderella
Tentu disayang mama..
Upik abu jadi patung, patungnya patung raja, rajanya rajawali, walinya wali Solo, Solonya Solokothok, bapak ilang nggowo pentung..."
( sambil menulis ini, saya ketawa, itu apa makna lagunya, siapa yang menciptakan dan mempopulerkan, saya sendiri nggak tahu. ada-ada saja...kkkk)

Lagu yang berbeda untuk mengiringi permainan yang hampir sama terdapat pada lagu berikut :
" Sepiring dua piring seperak dua perak apa namanya..."

Ada permainan yang tak diiringi dengan lagu, juga yang hanya sekedar lagu tanpa permainan.
Seperti ini :
" sentolop batu limo, mo opo, montor, montore mlayu ngidul, dul opo Dulah, Dulahe nunggu sawah, wah opo, Walang, walange miber-miber, ber opo, beras, berase dipususi, si opo, singkek, singkek mangan rojo, jo opo .....dst ** saya nggak berani meneruskan karena nggak etis**

Untuk menebak siapa yang kentut dalam sebuah komunitas, biasanya saya dan teman-teman kecil saya menyanyikan lagu. Karena jarang ada yang mau mengaku, babak akhir lagu ini seringkali makan korban. Tuduhan tak berdasar...hehehe..

" thang thing thang brot cowek gopel adah entut, ser ndelewr srot, nang kali ngiseni kendi, nang balong longsrot, godong waru dipertelu, godong dadap diperpapat, sing ngentut ......** sensor** jibrat,
Siapa yang kena tuding di akhir lagu, dia dianggap biang kentut. Biasanya  pasti ramai karena bisa jadi tudingan itu salah. Dan yang jadi korban pasti protes.

ada lagi..
" ning nang ning glung wak bayan, sego jagung ra doyan, iwak pitik enake, ketiban dingklik aduh mak e...
haha
Masih banyak sebenarnya lagu dan dolanan yang timbul tenggelam dalam ingatan saya. Yang jelas, ketika saya mengingatnya selalu yang terbersit adalah suasana riang gembira, semangat, imajinatif dan ditunggu-tunggu.
Bagaimana saya selalu interes dengan lingkungan, saya kira juga diawali dengan imajinasi tentang selokan dimana saya mencari ikan, atau sawah dimana saya 'ngasak' tebu, pohon-pohon tempat saya bermimpi punya rumah di atasnya. Seperti dalam cerita Pippi si Kaus Kaki Panjang, terjemahan dari Pippi Longstrump, novel anak-anak yang populer di tahun 80-an. Novel ini berkisah tentang seorang anak perempuan yang suka berpetualang dan suka kaus kaki panjang.
Imajinasi anak generasi tersebut saya kira juga didukung banyaknya bacaan yang mengisahkan dongeng lokal berbasis lingkungan dan tradisi. Paman Jan Mintaraga adalah salah satu pendongeng dan komikus yang setia menulis di majalah anak-anak Ananda. Salah satunya adalah cerita Mahabarata yang divisualkan dalam cergam penuh filsafat hidup.
Semua kisah-kisah yang saya baca, sangat mendukung kenyataan keseharian bocah yang cenderung suka pada hal-hal yang baru dan inspiratif. Sehingga perpaduan antara literatur dan ekspresi menemukan titik yang padan dalam satu permainan baru yang penuh tantangan. Dolanan dan lagunya. Wah, agaknya saya terdengar memaksa-maksa menghubungkan beberapa hal yang sebenarnya hanyalah slide hidup saja.
Ah, mengapa jadi rumit begini?
Namun ingatan tentang lingkungan yang sangat akrab dan sarat dengan petualangan khas anak-anak, tak mudah hilang. Sekarang semua itu hampir bisa dikatakan musnah. Tak ada selokan yang berisi ikan. Dimanapun itu. Selokan hanyalah seonggok genangan air yang menghitam dan bau. Sawah-sawah berganti bangunan beton yang angkuh dan tidak bersahabat. Bahkan untuk mengetahui bagaimana asal muasal beras yang dimakan, anak sekarang harus menggunakan kurikulum sekolah unggulan dengan biaya yang besar. Sedemikian anomalikah kita pada lingkungan sehingga hal-hal yang sangat mendasar sekarang harus dikemas dengan gaya kapitalis?
Anak-anak saya ternyata juga produk lingkungan seperti itu. Berjam-jam waktu mereka habiskan di depan layar komputer dan televisi di dalam rumah. Bahkan iming-iming saya tentang asyiknya mencari ikan di sungai dan sawah dekat rumah pun tidak membuat mereka tergerak. Karena sungainya sendiri bau dan hitam, dan di sawah, hawanya panas sekali. Mereka hanya suka ketika mereka melihat si Bolang dan laptop si Unyil  saja. Tapi mengalami sendiri membuat mereka mengeluh. " Panas, Bunda" kata mereka.
Saya sendiri tak bisa menyalahkan, karena ketika mereka keluar saya selalu was-was dan penuh pesan. Hati-hati banyak mobil dan sepeda ngebut. Hati-hati sama orang asing, sekarang banyak penculikan. Hati-hati, banyak kuman dimana-mana. Hati-hati, dan sederet kalimat, yang saya sendiri benci mendengarnya.
Beda sekali dengan era saya dulu. Tak ada kekhawatiran ketika saya bermain-main kemanapun. Dimana-mana masih terasa semilir angin yang sejuk. Dan tak ada orang dewasa dengan kelainan aneh-aneh yang mengerikan.
Setiap zaman barangkali punya kekhasan masing-masing. Saya saja yang kuno dan terlalu terbelenggu dengan imajinasi masa lalu. Sehingga terlalu khawatir bahwa mereka tak bisa menikmati masa kecilnya. Namun dalam benak saya, saya ingin sekali anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang bersih dan menyenangkan. Dekat dengan alam, penuh imajinasi, sama seperti ketika saya mengingat masa kecil saya.

Saya hanya berfikir, 20 tahun lagi, apa kira-kira yang tersembul dalam ingatan mereka ketika ditanya tentang masa kecil?
Kalau saya kan jelas ....
Dolanan yuukkk...

Introduction